JASA PAHLAWAN, jasa terlupakan

/
0 Comments

Ingat.? Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa Pahlawannya...

Selamat Hari Pahlawan.

Dimulai dari lingkungan tempat lahir.

Peperangan di kawasan Muria antara prajurit Indonesia melawan Belanda berlangsung selama bertahun-tahun. Ditandai agresi militer pertama pada 21 Juli 1947, Belanda melakukan serangan besar-besaran dari laut, darat, dan udara.


Serangan dari laut dilakukan di Jepara dengan menembakkan meriam yang mengakibatkan kawasan pantai Jepara hancur. Belanda berhasil mendarat di Pulau Mandalika yang sebelumnya dikuasai tentara Indonesia. Seorang prajurit Angkatan Laut tewas dalam pertempuran ini dan penjaga mercusuar ditawan (Lisiyas, dkk, 1973).


Pada hari yang sama, Belanda membombardir kota Kudus dari udara. Pesawat tempur P-15 Mustang yang dikenal sebagai si cocor merah itu memuntahkan pelurunya di beberapa titik. Seperti di sekitar rumah paseban kabupaten, pabrik Muriatex, dan Stasiun Kereta Api Wergu. Beruntung, walau terjadi kerusakan fisik tetapi tidak ada korban jiwa dalam serangan itu.


Peperangan berlangsung kembali ketika Belanda melakukan agresi militer kedua pada 19 Desember 1948. Kali ini Belanda bisa melakukan serangan melalui darat. Demak yang dikuasai Belanda menjadi pintu masuk untuk melakukan serangan ke Kudus.
Kudus berhasil dikuasai pada hari itu juga dan kota ini langsung dijadikan sebagai pusat pergerakan untuk menguasai daerah Jepara, Pati, dan sekitarnya. Memanfaatkan fasilitas yang ada di Kudus, Belanda membentuk beberapa markas, seperti Plaatselijk Militair Commando (PMC), Inrichtingen Voor Geheimsche Dienst (IVG), Netherlands Expeditionary Forces Intelligence Service (NEFIS), Militair Politie (MP), dan lain sebagainya. Belanda juga mengambil alih pabrik gula Rendeng.


Bupati Militer
Peperangan membuat situasi pemerintahan sipil berjalan tidak normal. Pada 22 Desember 1948 atas perintah Markas Besar Komando Djawa dibentuklah pemerintahan militer untuk seluruh wilayah Jawa.
Di kawasan Muria yang meliputi Kudus, Jepara, dan Pati dibentuk Komando Daerah Muria. Markasnya di Desa Bageng, Kecamatan Gembong, Pati. Di sinilah pemerintahan militer untuk kawasan Muria bermarkas dengan Kapten Ali Machmoedi sebagai komandannya. Yang menjadi bupati militer Kudus adalah Kapten Kahartan. Yang menjadi bupati militer Jepara adalah Kapten Soedjarwo, dan bupati militer Pati adalah Kapten Soewardjo Nitiprawiro.


Beberapa kali Ali Machmoedi dan pasukannya melakukan serangan dan penghadangan tentara Belanda hingga akhirnya saat bertempur di Desa Bergad, Pati, Ali Machmoedi tertembak dan gugur. Sejak saat itu Komando Daerah Muria dipimpin oleh Mayor Kusmanto dan memindahkan markasnya ke Desa Glagah Kulon, Kecamatan Dawe, Kudus. Mayor Kusmanto mempunyai pasukan elite yang bernama pasukan Macan Putih. Nama ini diambil dari mitos seekor macan sakti yang ada di sekitar markas.
Dari terbentuknya Komando Daerah Muria pada 1948 hingga Konferensi Meja Bundar (KMB) 1949, pasukan Kusmanto terus melakukan perlawanan. Dalam pertempuran di Bangsri Jepara telah gugur Letnan Wijotomoeljo dan beberapa prajurit ditawan. Begitu juga dalam pertempuran di Kudus, Letnan Marboko tewas dan Kapten Marwoto hilang.


Di luar nama-nama itu banyak kusuma bangsa yang tidak tercatat namanya karena tidak jelas identitasnya. Kemudian jasad-jasadnya dikumpulkan dan dimakamkan di satu tempat di Desa Kaliputu, Kudus. Makam ini kemudian diresmikan menjadi Makam Pahlawan Setya Pertiwi pada 1 Januari 1950.
Kondisi Monumen
Kita tidak perlu meragukan rasa nasionalisme dan patriotisme orang-orang yang telah berperang di kawasan Muria. Mereka telah membuktikannya dengan pengorbanan nyawa. Tetapi sayangnya, generasi sekarang tak banyak yang mengetahui kisah ini.
Ada beberapa hal yang membuat kisah pertempuran di Muria tidak banyak dikenal masyarakat. Di antaranya, karena minimnya sejarah tertulis dari kisah tersebut. Orion, salah seorang murid SD di Kecamatan Bae, Kudus mempertanyakan kebenaran kisah perang di Muria. Alasannya, dia tidak pernah menemukan tulisan itu dalam buku pelajarannya. Gurunya pun tidak pernah bercerita.


Untuk mengenang peristiwa itu, pihak TNI telah membangun sebuah monumen sederhana di tanah bekas milik Modirono Saboe di Desa Glagah Kulon, Dawe Kudus pada 1973. Monumen ini berada di sela-sela rumah penduduk dan tidak di pinggir jalan raya sehingga tidak begitu tampak. Jika diamati lebih jeli, kondisi monumen ini sudah lapuk mesti baru saja dicat ulang.
Apa pun bentuknya monumen itu adalah benda mati. Agar membawa manfaat lebih dia harus ‘dihidupkan’ melalui tulisan maupun lisan. Di tengah maraknya tawuran pelajar dan mahasiswa, sentuhan sejarah perlu diberikan kepada generasi penerus agar mereka menghormati pengorbanan para pejuang. DIBANGUNLAH MONUMEN PATUNG Ali Machmoedi dipasar gembong sekitar tahun 1974-1975.

2015  Japati's -  lampu merah



You may also like